FLA Award: Berbagi Pengalaman Mendorong Kemandirian Desa

 

Koordinator FLA Kepulauan Selayar, Rakhmat Zaenal dan Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH, berfoto bersama dengan para penerima FLA Award


Tidak banyak yang mengganggap Desa sebagai ujung tombak utama pembangunan, kecuali beberapa organisasi dan Partai Politik.


Beberapa organisasi dan partai membentuk ranting atau cabang sampai ke desa. Dalam hirarki organisasi itu, ada pengurus desa, ada koordinator desa. Desa adalah sebuah wilayah penting walau tidak semua mengakuinya dengan sepenuh hati.


Membangun keyakinan bahwa Desa adalah ujung tombak majunya satu daerah – bahkan negara, beberapa pihak yang percaya akan hal ini kemudian membentuk Forum Lintas Aktor (FLA), antara lain di Kepulauan Selayar.

 

Dalam FLA Kepulauan Selayar saat ini, terhimpun orang-orang dari berbagai profesi, baik pegawai Pemda, guru, swasta, Asosiasi Pemerintahan Desa (Apdesi), Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa (BPD), organisasi warga, Lembaga Swadaya Masyarakat, maupun individu dengan berbagai latar pendidikan dan profesi.

 

Mereka yang bergabung di FLA percaya bahwa Desa adalah ujung tombak kemajuan satu daerah. Dan FLA tidak sendirian. Masih banyak tokoh yang menjadi pendorong dan penggerak berbagai kegiatan atas kesadaran sendiri untuk melakukan hal-hal yang mampu mendorong peningkatan kesejehateraan masyarakat Desa, baik secara individu maupun secara kolektif. Para tokoh ini yang karena kebanyakan terdiri dari orang-orang “biasa”, kemudian disebut aktor, antara lain untuk membedakan dari tokoh masyarakat yang biasanya memiliki posisi dalam struktur sosial masyarakat dan memiliki hidup yang mapan.

 

Berdasarkan keyakinan ini, FLA Kepulauan Selayar kemudian mengidentifikasi aktor-aktor di Desa berdasarkan masukan dan informasi masyarakat melalui Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) dan LSM ISET sebagai mitra ACCESS di Kepulauan Selayar, tentang mereka yang selama ini bekerja mendorong komunitasnya untuk mencari solusi terhadap permasalahan di desanya, terutama dalam mendorong kemandirian warga. Kepada mereka itulah diberikan apresiasi melalui penganugerahan FLA Award Untuk Kemandirian Desa.

 

Melalui pertemuan-pertemuan secara berkala yang dilakukan FLA, para aktor dari Desa diberi ruang untuk bercerita tentang apa yang dilakukan, apa kendala, sejauh mana dampaknya pada masyarakat, terutama dalam mendorong kemandirian desa. Melalui pengungkapan-pengungkapan pengalaman ini, diharapkan bisa memberi inspirasi dan sebisa mungkin direplikasi di Desa lain.

 

Penganugerahan FLA Award kali ini merupakan rangkaian dari Review Pertemuan Apresiatif Kabupaten (PAK) untuk membahas pencapaian visi Tata Kepemintahan Lokal Demokratis (TKLD) Kepulauan Selayar yang diinisiasi dan diodorong oleh Program ACCESS (The Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme), yang kali ini dilaksanakan di Desa Patilereng, Kecamatan Bontoharu, dihadiri oleh Kades, BPD, KPMD dan Kader Posyandu dari 30 Desa daratan.

 

Penganugerahan FLA Award yang baru pertama kali dilakukan ini, memberi penghargaan untuk 5 ketegori dan bidang, yaitu: Transparansi dan Akuntabilitas, Peningkatan Ekonomi Desa, Lingkungan, Organisasi Warga, dan Pelayanan Publik.

 

Koordinator FLA Kepulauan Selayar, Rakhmat Zaenal, dalam sambutannya menjelaskan bahwa tujuan dari penganugerahan ini bukan saja sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja-kerja yang telah dilakukan oleh para aktor, tapi juga bagaimana menularkan kerja-kerja itu ke berbagai desa sehingga diharapkan dalam dua atau tiga tahun ke depan, Desa-Desa di Kepulauan Selayar penuh dengan aktor-aktor kemandirian yang dengan sendirinya akan mendorong terwujudnya Desa Mandiri.

 

FLA Award untuk tansparansi dan akuntabilitas, diberikan kepada Kepala Desa yang selalu mendorong masyarakatnya untuk terlibat langsung dalam semua tahapan perencanaan dan penganggaran, serta membuka ruang kepada masyarakat untuk mengikuti dan mengawasi pelaksanaan program di desa. Kades yang menerima penghargaan ini adalah Kades Tanete, Kades Kayu Bauk, Kades Maharaiya, dan Kades Bontosunggu. Untuk peningkatan ekonomi Desa, diberikan kepada mereka yang dengan kreatif berinovasi mengelola sumberdaya lokal agar mampu meningkatkan perekonomian masyarakat  secara kolektif. Penghargaan diberikan kepada Andi Raja dari Desa Mekar Indah dan Tajuddin, UPK PNPM-MP yang sekaligus Direktur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Bontosunggu. Untuk organisasi warga, diberikan kepada mereka yang menginspirasi warga untuk menghimpun diri dan membuat program kerja untuk melakukan yang terbaik untuk masyarakatnya, yang antara lain diberikan kepada Wirawati dari Desa Kohala; Muh. Arsyad, SKM, MPH dari Bappeda Kepulauan Selayar; Selfianti, Kader Posyandu Desa Patilereng dan Ketua BKM Passamaturukang Benteng Selayar, H. Saiful Arif, SH, yang kebetulan adalah juga Wakil Bupati Kepulauan Selayar. Untuk penghargaan di bidang Lingkungan, diberikan kepada Kampung Penyu (Kerukunan Pemuda Pelindung Penyu), Dusun Talang, dan Ranawati, pendorong penanaman mangrove di Desa Lowa, Kecamatan Bontosikuyu. Sedang untuk pelayanan publik, diberikan kepada Camat Bontoharu yang rutin menemui warga mendengarkan permasalahan mereka, dan Relawan Kesehatan Reformasi (RKR) Desa Kayu Bauk, yang berhasil menggerakkan masyarakat untuk menyiapkan mobil angkutan sebagai ambulance 24 jam yang siap digunakan siapa saja yang mebutuhkan.

 

Melalui pengalaman para aktor ini, FLA melakukan sharing pengalaman, sekaligus untuk mengetahui kendala dan dampak dari kerja-kerja yang mereka lakukan, serta bagaimana ke depan agar yang dillakukan itu bisa lebih maksimal dan meluas.

 

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dan dukungan dari berbagai pihak yang ditandai dengan penanda tanganan bersama di atas baliho panjang untuk mendukung kemandirian desa. Penanda tanganan yang dilakukan oleh Kades dan utusan dari 30 Desa daratan, juga dilakukan oleh Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Camat Benteng, Camat Bontoharu, Camat Bontosikuyu, dan yang mewakili Camat Buki dan Bontomatene.

 

Wakil Bupati Kepulauan Selayar dalam sambutannya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Ke depan, katanya, pemerintahan Desa dan masyarakat Desa akan semakin memiliki peluang untuk mengembangkan dirinya, apalagi dengan disahkannya RUU Tentang Desa tanggal 18 Desember yang lalu, dimana dari APBN yang diberikan ke daerah, 10 % akan diberikan ke desa. Kebijakan pemerintah untuk mendorong kemandirian desa ini di samping merupakan peluang, juga akan menjadi tantangan bagi pemerintahan desa dan masyarakatnya, bagaimana memanfaatkan peluang itu dengan sebaik-baiknya. Dan ini juga merupakan tantangan bagi FLA untuk bekerja lebih serius dalam mendorong kemandirian desa ini.

 

 
Share |
 

Info Redaksi

Rizal Anshari
  • Penulis : Rizal Anshari
  •  
  • Editor : Rizal Anshari
    Revisi Terakhir : 05/01/2014 22:44
    Jumlah Akses : 602
 

Komentar Pembaca

Nama Anda :
Komentar
Max. 250 Karakter
:
Kode :
   (*) Isi dengan Kode diatas untuk Verifikasi
 
 
 
Pengelola berkewajiban untuk merubah, menghapus komentar yang tidak layak baik dari segi bahasa maupun isinya.