Selayar Di Masa Kolonial Jepang (Bag. III) - A. Amrang Amir

Pembangunan Jepang

Sebagai wilayah yang berada dalam kuasa pemerintah militer angkatan laut Nihon Kaigun dan pemerintahan sipil Minseifu, Jepang pun menggiatkan berbagai pembangunan fisik yang sebagian besar ditujukan untuk kepentingan militer baik untuk pertahanan, komunikasi, maupun mobilisasi kekuatan perang. Pembangunan ini dilaksanakan dengan mengerahkan penduduk setempat (romusha) yang diawasi mandor-mandor Jepang atau orang kepercayaan Jepang dari penduduk lokal. Pembangunan fisik yang dilakukan pemerintah kolonial Jepang di Selayar antara lain: Pembangunan jalan, jembatan, tangsi militer hingga menara pengintai. Dalam tulisan ini penulis memaparkan beberapa bangunan fisik peninggalan Jepang, antara lain, jalan Appabatu – Puncak, Jembatan Tana Tappu, beberapa bangsal dan tangsi militer di Appabatu, Cinimabela dan Bontomarannu, beberapa sumur, menara pengintai dan komunikasi di Puncak, serta laporan tentang keberadaan sebuah bunker persembunyian.

Jalan Appabatu – Puncak

Pada masa Hindia Belanda, tepatnya pada Tahun 1855, pemerintah Belanda telah membangun jalan raya di sepanjang pesisir barat Selayar. Sementara jalan yang menghubungkan antara Appabatu di pesisir barat dan timur Selayar masih berupa “jalanan kerbau” yakni jalanan tanah selebar kurang lebih dua meter. Jalan inilah yang digunakan oleh penduduk di belahan timur Selayar untuk mengakses pasar-pasar yang ada di pesisir barat seperti Barugayya, Parak dan Panggiliang. Pada masa Jepang jalan tersebut berada dalam wilayah Regenschaap Bonea. Saat ini jalan tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Bontomanai. Pemerintah Jepang kemudian melakukan pengerasan ala kadarnya terhadap jalan ini dengan mengangkut batu-batu dari sungai dan perbukitan karang di bagian barat Selayar. Adapun yang memimpin pembangunan jalan tersebut (keterangan Dg. Bodo) adalah Mandor Sakata. Sementara penduduk lokal yang dipercayakan sebagai asisten mandor adalah Punggaha Jambuya (keterangan Baho Dg.Sitojeng). Di beberapa kampung yang dilalui jalan ini, masih bisa diketemukan puing-puing bangunan peninggalan Jepang seperti eks pondasi bangunan, sumur, dan batu tempat peristirahatan. Kemungkinan besar pembangunan jalan ini diniatkan sebagai akses menuju menara pengintaian yang kelak mereka bangun di Daerah Pattahakayuang atau yang lebih dikenal sebagai Daerah Puncak. Jalan Appabatu - Puncak sendiri memiliki panjang kurang lebih 8 km dan melewati beberapa kampung. Dimulai dari Kampung Appabatu di pesisir barat, jalan menjulur ke timur menyisir kaki perbukitan Bonto Katimbang dan memasuki Kampung Cinimabela. Dari Kampung Cinimabela, jalanan menanjak dan berbelok ke utara memotong tengah jurang Tana Tappu lalu berbelok lagi ke timur setelah memasuki Kampung Paccendolang. Setelah itu Jalanan mulai mendaki lagi memasuki Kampung Pinang-Pinang, meninggi hingga ke Kampung Gollek kemudian menikung ke utara menuju Kampung Bontomarannu, dan akhirnya menanjak tajam ke daerah Puncak di mana Menara Pengintai / komunikasi Jepang berada.

Jembatan Tana Tappu

Tanah Tappu adalah sebuah jurang menganga yang terletak antara Kampung Cinimabela dan Kampung Paccendolang, termasuk dalam wilayah Desa Bontomarannu, Kecamatan Bontomanai. Pembangunan jalan yang menghubungkan jurang ini dari masa kolonial Belanda, Jepang hingga masa kemerdekaan dan masih bisa dinikmati hingga saat ini tentu menjadi hal yang begitu penting dibicarakan, mengingat tanpa adanya jalan penhubung jurang ini, tidak bisa dibayangkan betapa sulitnya akses transportasi antara pesisir barat Selayar dan kampung-kampung di sebelah timur Selayar terutama yang berada dalam wilayah kecamatan Bontomanai. Tana Tappu sendiri dalam bahasa Selayar berarti tanah terputus. Walaupun demikian, istilah ini sebenarnya tidak terlalu tepat. Tana Tappu sesungguhnya jurang-jurang besar yang terletak di dua apitan bukit, dimana pada bagian sebelah selatan terdapat sebuah bukit dan dan akses jalan menuju Kampung Cinimabela, dan di sebelah timur terdapat bukit dan jalan menuju Kampung Paccendolang. Di tengah jurang Tana Tappu sendiri mencuat sebuah perbukitan. Perbukitan inilah yang kemudian membagi jurang Tana Tappu menjadi dua bagian, yakni, Tana Tappu Laukang (Tana Tappu sebelah barat) dan Tana Tappu Rajangang (Tana Tappu sebelah timur). Tana Tappu Laukang adalah jurang yang terletak antara perbukitan di tengah Tana Tappu dan jalan menuju kampung Cinimabela di sebelah selatan, sedangkan Tana Tappu Rajangang adalah jurang yang terletak antara perbukitan di tengah Tana Tappu dan jalan menuju Kampung Paccendolang di sebelah timur. Menurut cerita penduduk, di zaman Kolonial Belanda, sudah ada upaya untuk membangun jalan di antara jurang-jurang tersebut. Ialah dengan memasang kayu tammate di antara perbukitan curam ini, lalu ditimbun dengan tanah hingga jadilah sebuah jalan yang menghubungkan bukit demi bukit. Jalan penghubung perbukitan curam ini diistilahkan dengan “Jembatan”. Perbaikan berikutnya dilakukan oleh Pemerintah Jepang, dengan memasang dua jejer tembok, kemudian diisi dengan tanah. Jembatan Tana Tappu Laukang melintang utara-selatan, menghubungkan jalanan dari Kampung Cinimabela ke tengah Perbukitan Tana Tappu, sedangkan Tana Tappu Rajangang memanjang dari barat ke timur, menghubungkan perbukitan di tengah Tana Tappu ke jalan menuju Kampung Paccendolang. Maka “Jembatan Tana Tappu” ini menyerupai huruf “L” dengan panjang total sekitar setengah kilometer.

Pembangunan Bangsal dan Tangsi Militer

Ketika melaksanakan pembangunan jalan, Jepang membangun beberapa bangsal dan tangsi militer sebagai tempat tinggal para mandor pengawas. Salah satu bangsal tersebut berada di Kampung Appabatu. Bangsal ini kemudian dipindahkan ke Kampung Cinimabela dan terakhir ke Kampung Bontomarannu.

Bangsal Appabatu

Sebutan bangsal sebenarnya adalah bangunan darurat yang kemungkinan besar dibangun untuk keperluan sementara, kemungkinan sebagai tempat menginap para mandor dan pengawas pembangunan Jalan Appabatu Puncak. Puing-puing eks bangsal Appabatu yang menurut Baho terletak di Kampung Appabatu sendiri belum diketemukan keberadaannya. Dari pelacakan Jurnalis Fadli Syarif, ditemukan tiga buah sumur yang menurut penduduk setempat merupakan sumur dimana orang Jepang mengambil air. Salah satunya adalah Buhung Bakkara. Ketiga sumur tersebut sudah tidak terpakai. Adapun mengenai bangsal, yang kebanyakan adalah bangunan semi permanen, dimana lantainya dari tembok, sementara dindingnya dari papan dan atapnya dari seng dan bambu, kemungkinan besar telah lapuk dimakan usia. Disamping itu, situs-situs bersejarah seperti ini cenderung diabaikan baik oleh pemerintah setempat maupun pemerintah daerah. Tangsi Cinimabela Menurut Blogger Catatan Harian Seorang Jurnalis asuhan Fadly Syarif, Tangsi Cinimabela merupakan salah satu markas serdadu Jepang, dimana tangsi ini merupakan tempat tinggal para petugas Jepang yang dulunya tinggal di Bangsal Appabatu. Namun yang bisa dijumpai kini tinggal pondasi eks bangunan yang diyakini sebagai bekas bangunan markas Jepang.

Tangsi Bontomarannu

Jika Bangsal Appabatu yang kemudian dipindahkan ke Tangsi Cinimabela ditempati oleh para mandor pengawas pembangunan jalan, maka Tangsi yang didirikan di Kampung Bontomarannu ditempati oleh petugas penjaga menara puncak dari bangsa Jepang totok maupun petugas pribumi yang didatangkan dari daerah lain di luar Selayar. Eks bangunan yang disebut sebagai Tangsi Nippon tersebut pun kini cuma bisa dijumpai puing-puingnya saja. Yakni bekas pondasi dengan ukuran panjang kira-kira enam meter dan lebar sekitar empat meter. Bangunan ini terletak di ujung utara Kampung Bontomarannu. Menurut keterangan Daeng Baho, ada belasan petugas yang tinggal di tangsi ini. Mereka terdiri dari petugas Jepang totok dan petugas pribumi. Semua petugas dipanggil dengan sebutan “Tuan”. Mereka itu antara lain, Tuan Toshio dan Tuan Anagino yang asli Jepang. Adapula seorang berperawakan tinggi besar, berkulit hitam dan berambut keriting yang kemungkinan petugas rekrutan Jepang dari belahan timur Indonesia. Nama aslinya tidak diketahui. Para penduduk hanya menamainya dengan sebutan Tuan Bulu Pundok (Tuan berbulu monyet) karena perawakannya yang seram itu. Ada lagi satu petugas pribumi yang lagi-lagi tidak diketahui nama aslinya,cuma dipanggil dengan sebutan Tuan Bulo-bulo saja. Tuan Bulo-bulo ini konon berasal dari Bantaeng, tapi beliau tidak tinggal di Tangsi Bontomarannu, tetapi di Kampung Teko, yang terletak di sebelah selatan Kampung Bontomarannu.

Buhung Silo dan Buhung Ulu Ere

Kira-kira lima meter di sebelah timur bangunan pondasi Tangsi Bontomarannu, terdapat sebuah sumur yang masih dipakai oleh penduduk setempat. Sumur yang diberi nama Buhung Silo (Sumur Silo) itu berada di bawah naungan sebuah pohon beringin. Sumur ini berbentuk empat persegi panjang, dengan panjang sekitar dua meter, lebar sekitar satu meter, dan dalam sekitar satu meter setengah. Sumur tersebut berdinding tembok berupa batu hitam (batu kali) yang ditata rapi kemudian direkat dengan semen. Satu lagi sumur yang dibangun oleh Jepang yakni Buhung Ulu Ere Dari Buhung silo dan Buhung Ulu Ere ini, konon Jepang mangalirkan air panas ke kolam-kolam penampung melalui pipa besi yang pembakarannya tak pernah padam. Kebutuhan air panas untuk mandi para pekerja Jepang ini nampaknya memang dibutuhkan mengingat Daerah Bontomarannu yang lumayan dingin. Kolam penampung air juga masih bisa dijumpai saat ini. Kolam tersebut terletak sekitar sepuluh meter, sebelah selatan Buhung Silo. Panjang kolam kira-kira 2 meter, sedangkan lebar dan tinggi masing-masing sekitar 1 meter.

Pa’radioang Puncak

Daerah Pattahakayuang atau yang lebih dikenal dengan nama Puncak, adalah sebuah perbukitan di bagian timur Selayar, dengan ketinggian sekitar 300 meter dari permukaan laut. Bukit Puncak terletak di sebelah utara Dusun Bontomarannu, Desa Bontomarannu (di masa Jepang: Glarangschaap Gantarang), Kecamatan Bontomanai (di masa Jepang :Regenschaap Bonea). Saat ini, di atas perbukitan tersebut didirikan dua buah menara milik Perum Telkom bersama dua buah bangunan yang berfungsi sebagai kantor sekaligus asrama bagi petugas menara. Menara yang lebih kecil memiliki tinggi 27 meter, dibangun pada Bulan Oktober 1976 oleh Perusahaan Denko Kogyo. Co ltd bekerja sama dengan perusahaan Sumitomo Shoji Kaisha ltd. Sedangkan menara yang lebih besar memiliki tinggi 40 meter, dibangun pada tahun 1994. Posisi dan ketinggian wilayah ini memungkinkan pemantauan ke arah pesisir barat dan timur Selayar, hal yang kemungkinan besar menjadi alasan pembangunan menara pengintai Oleh Kolonial Jepang pada masanya. Penduduk setempat menyebut menara intai-komunikasi Jepang tersebut dengan istilah Pa’radioang (tempat berkomunikasi dengan radio).

Menara Pengintai

Dg Baho dan Dg Sinda memaparkan bahwa, menara pengintai Jepang juga berfungsi sebagai pemancar komunikasi. Menara dibangun secara darurat dengan menggunakan bahan-bahan yang diperoleh dari daerah setempat, berupa empat batang pohon kelapa sebagai tiang utama. Tiang-tiang ini kemudian diperkuat dengan pemasang kayu dan bambu secara bersilang yang kemudian dihubungkan dengan tiang utama. Di puncak menara dibangun sebuah gardu kecil yang dilengkapi peralatan pengintai seperti teropong, beserta pendukung komukasi seperti antena. Pada gardu kecil inilah ditempatkan dua orang sebagai penjaga menara. Saat jam jaga selesai, dua orang lagi naik menggantikan. Mereka mengakses puncak menara dengan menggunakan sebuah tangga dari bambu. Adapun para petugas menara intai tersebut adalah bercampur antara petugas Jepang totok dan pribumi dari luar Selayar hingga yang direkrut dari penduduk setempat. Mereka antara lain, Tuan Anagino (Jepang), Tuan Toshio(Jepang), Tuan Bulu Pundok (pribumi luar Selayar) dan Tuan Bulo-bulo (pribumi luar Selayar). Sementara yang direkrut dari penduduk setempat yang pada umumnya adalah anggota Heiho antara lain, Dualang Daeng Sirapi (asal Glarangschap Buki-Buki), Sinyo (Glarangschapp Gantarang / Bontomarannu), dan Saleh (Glarangschapp Gantarang / Bontomarannu).

Rumah Jaga

Di dekat menara intai, tepatnya di sebelah barat menara, dibangun pula dua buah bangunan rumah jaga, yang menurut keterangan penduduk setempat, berukuran cukup besar. Kedua rumah jaga tersebut menghadap ke selatan, berlantai tembok, berdinding bete’ (bambu) dan juga beratap teba (bambu). Di sebelah timur rumah jaga tersebut ditempatkan sebuah mesin (kemungkinan mesin pembangkit listrik). Sementara di dalam rumah jaga sendiri terdapat peralatan komunikasi. Istilah Pa’radioang sendiri sebenarnya mengacu pada bangunan rumah jaga ini. Dari pelacakan penulis langsung ke tempat ini, penulis berpendapat bahwa menara ataupun rumah jaga yang dibangun kolonial Jepang tersebut kemungkinan berada sedikit ke timur dari menara kecil Telkom saat ini. Dibuktikan dengan adanya sebuah tembok semacam bekas pondasi bangunan yang sebagian besar sudah hancur. Tembok tersebut terbuat dari batu kali yang ditata rapi dan diberi perekat semen.

Pa’radioang Puncak dimana menara intai dan rumah jaga yang dibangun kolonial Jepang ini, akhirnya luluh lantak dibom oleh Sekutu pada sekitar tahun 1945.

Bunker?

Keterangan mengenai keberadaan bunker persembunyian yang konon dibangun oleh Jepang ini masih samar-samar. Belum ada satu pun penemuan yang memastikan keberadaannya. Namun Muh. Amir, salah serang penduduk Lingkungan Buki-buki bercerita bahwa pada sekitar tahun 1950-an, ada jalan setapak yang menghubungkan Kampung Gantarang dan Perkampungan Buki-buki, dimana setapak tersebut melalui sebelah timur Pemancar Puncak. Di dekat setapak tersebut konon ada semacam gua yang dikenal oleh penduduk sebagai Liang Pamminsa’buang Japaang atau gua persembunyian Jepang, yang mungkin telah hilang tertimbun longsor. Gua yang bisa diduga semacam bunker persembunyian itu dibangun dengan melubangi sebuah bukit dimana lebar lubangnya dapat dimasuki sebuah truk, sementara kedalamannya bisa mencapai kurang lebih 20 meter.

Pembangunan non fisik (Organisasi dan Pendidikan) Heiho

Heiho (tentara pembantu) adalah pasukan yang terdiri dari bangsa Indonesia, dibentuk oleh tentara pendudukan Jepang di Indonesia berdasarkan instruksi bagian angkatan darat markas besar umum Kekaisaran Jepang pada tanggal 2 September 1942 dan mulai merekrut anggota pada tanggal 22 April 1943. Heiho pada mulanya dimaksudkan untuk membantu pekerjaan kasar militer seperti membangun kubu dan parit pertahanan, menjaga tahanan dan lain-lain. Namun dalam perkembangannya, seiring makin sengitnya pertempuran antara Jepang dan Sekutu, Heiho kemudian dipersenjatai dan dilatih untuk diterjunkan ke medan perang. Pasukah Heiho juga dibentuk di Pulau Selayar. Mereka kebanyakan terdiri dari para pemuda. Mantan anggota Heiho yang kelak memimpin perebutan kekuasaan dari Kolonial Jepang di Selayar yang juga menjadi Bupati Selayar, adalah Rauf Rahman. Sementara di Selayar bagian timur, anggota Heiho ada yang direkrut dan ditugasi menjaga menara pengintai. Orang selayar menyebut Heiho dengan kata “heho”. Menjelang akhir pendudukan Jepang di Indonesia, jumlah pasukan Heiho diperkirakan sebanyak 42.000 orang dengan lebih dari setengahnya terkonsentrasi di pulau Jawa. Di pulau Selayar sendiri, ada ratusan orang.

Seinendan

Seinendan adalah organisasi semi militer yang didirikan pada tanggal 29 April 1943. Orang-orang yang boleh mengikuti organisasi ini adalah pemuda yang berumur dari 14 tahun sampai 22 tahun. Tujuan didirikannya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan menggunakan tangan dan kekuatannya sendiri. Adapun sebenarnya maksud terselubung diadakannya pendidikan dan pelatihan ini adalah, mempersiapkan pasukan cadangan untuk kepentingan Jepang di Perang Asia Timur Raya. Tidak terkecuali di Selayar pun dilakukan perekrutan Sainendan dan Joshi (Sainendan putri). Mereka diajari baris-berbaris dalam hitungan Jepang: ich ni, san, si dan lagu-lagu propaganda untuk menebar kebencian terhadap sekutu, misalnya dengan lirik; bangsa Inggris dan Amerika musuh seluruh Asia (Keterangan Dg. To’oq). Adapun penduduk Selayar yang pernah direkrut ke dalam keanggotaan Sainendan antara lain: Karaeng Lolo (mantan Hanco atau komandan regu), Saiye, Jakaria, Saturung, Makkujari, Basotta, Hamusing, Makkuring, Jamuriung, Muhammad Ali, Anjang, Mini, Batong, Baharu dan Borahim ( Ahmadin / Muh. Arief Patta, mantan anggota LVRI Kab. Selayar)

Pendidikan

Tweede Indlansche School atau sekolah rakyat kelas dua dengan lama pendidikan tiga tahun telah didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad 20 dan telah tersebar di setiap Regenschapp di Selayar, mulai dari Benteng, Barugayya ( Bonea), Batangmata, dsb. Di zaman Jepang, sekolah kelas dua ini diganti namanya menjadi Kokumin Gakko dan telah didirikan di tingkat Ku. Misalnya di dalam Regenschapp Bonea, terdapat Kokumin Gakko, di wilayah Ku Bontomarannu, Polebunging, dan Lembang Bosang. Rakyat dari kalangan kebanyakan (non bangsawan) diberi kesempatan belajar di lembaga pendidikan formal ini. Hal ini yang membedakan dengan sistem pendidikan di masa Kolonial Belanda, dimana hanya keluarga bangsawan yang boleh mengecap pendidikan.

 
Share |
 

Info Redaksi

Andi Amrang Amir
  • Penulis : Andi Amrang Amir
  •  
  • Revisi Terakhir : 17/03/2013 13:03
    Jumlah Akses : 1364
 

Komentar Pembaca

Nama Anda :
Komentar
Max. 250 Karakter
:
Kode :
   (*) Isi dengan Kode diatas untuk Verifikasi
 
 
 
Pengelola berkewajiban untuk merubah, menghapus komentar yang tidak layak baik dari segi bahasa maupun isinya.