Taka Bonerate Diusulkan Ke Unesco Untuk Dijadikan Cagar Biosfer Dunia
 

 

Kawasan Taka Bonerate yang ditetapkan sebagai Taman Nasional Laut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 280/KPTS-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992 dan sebagai Taman Nasional berdasarkan SK Menteri Kehutanan No. 92/KPTS-II/2001 tanggal 15 Maret 2001, diusulkan oleh pemerintah ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) untuk dijadikan Cagar Biosfer Dunia.

Dengan luas kawasan 530.765 ha, meliputi 21 gugusan pulau kecil, puluhan taka dan bungin yang membentuk lingkaran menyerupai tapal kuda (atoll), memiliki tingkat keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi, dan merupakan terumbu karang atoll terbesar ketiga di dunia (Nontji, 1997) seluas 220.000 ha, setelah atoll Kwajifein di Kep.Marshall dan atoll Suvadiva di Maldives.

Di kawasan ini, ditemukan 68 genera dan 242 spesies karang, 526 spesies ikan karang (155 genera), 11 spesies lamun (7 genera), 70 spesies tumbuhan darat, 34 spesies burung (meliputi burung darat, burung pantai dan burung laut) serta beberapa biota laut dan darat lainnya, seperti penyu, lumba-lumba, paus, dan sebagainya (LIPI, 1995; RPTN, 1997; PSTK UNHAS, 2000; YNYBR, 2005, 2012).

Sedang luasan habitat di kawasan ini adalah: karang hidup 10.029 ha, karang mati 8.559 ha, lamun dan algae 19.748 ha, pasir 20.381 ha, pulau / daratan 437 ha dan bungin (sand dunes) 76 ha.

Untuk mendukung pengusulan Taka Bonerate sebagai Cagar Biosfer Dunia itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Departeman Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Taka Bonerate melakukan pertemuan dengan Pemerintah Daerah Kepulauan Selayar yang dihadiri oleh Direktur Eksekutif Program Man and Biosphere Indonesia – LIPI, Prof. Dr. Y. Purwanto, Bupati Kepulauan H. Syahrir Wahab, Muspida, Kepala SKPD, para Kepala Desa dari kawasan Taka Bonerate, dan para pemerhati lingkungan.

Cagar Biosfer adalah kawasan konservasi ekosistem daratan atau pesisir yang diakui oleh Program MABUNESCO untuk mempromosikan keseimbangan hubungan antara manusia dan alam.

Cagar Biosfer melayani perpaduan tiga fungsi yaitu; 1. Kontribusi konservasi lansekap, ekosistem, jenis, dan plasma nutfah; 2. Menyuburkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan baik secara ekologi maupun budaya; dan 3. Mendukung logistik untuk penelitian, pemantauan, pendidikan dan pelatihan yang terkait dengan masalah konservasi dan pembangunan berkelanjutan di tingkat lokal, regional, nasional, maupun global.  

Saat ini, di dunia ada 631 Cagar Biosfer yang tersebar di 119 negara. Sedang di Indonesia, kalau Taman Nasional Taka Bonerate sudah ditetapkan sebagai Cagar Biosfer, maka akan menjadi Cagar Biosfer ke 9. Sebelumnya sudah ada 8 Cagar Biosfer, yaitu 1. Cagar Biosfer Pulau Siberut (ditetapkan tahun 1993); 2. Cagar Biosfer Gunung Leuser (1980); 3. Cagar Biosfer Tanjung Puting (1982); 4. Cagar Biosfer Cibodas (1980); 5. Cagar Biosfer Lore Lindu (1993); 6. Cagar Biosfer Komodo (1990); 7. Cagar Biosfer Giam Siak Kecil-Bukit Batu (2009); dan 8. Cagar Biosfer Taman Laut Wakatobi (2012).

Dalam acara ini, Direktur Eksekutif Program MAB – LIPI mengharapkan dukungan dari semua pihak, karena keberadaan Cagar Biosfer ini tidak saja akan menunjukkan komitmen kita akan keberlanjutan lingkungan, tapi juga akan menjamin ketersediaan sumberdaya untuk masyarakat secara berkelanjutan.


 

 

 
Halaman : 12345678910>...
 
Through MDGs
 

 

- "Bangsa - bangsa di dunia ini berkembang karena mendidik anak-anak mereka" Hipokrates

 

 
Public Corner